Ida Arijani

Belum menuliskan informasi profilenya.

Selengkapnya

Pintar Saja Tidak Cukup

Pintar Saja Tidak Cukup

Dengan saksama kuperhatikan tingkah polah anak didikku di kelas. Kebetulan mengajar di kelas 7. Sisa-sisa keusilan waktu mereka di Sekolah Dasar masih lekat juga. Cari perhatian, seenaknya sendiri, suka mengadu, merebut, dan sifat-sifat lainnya yang belum dikatakan seutuhnya menjadi siswa SMP. Meski sudah satu semester lebih mereka di sekolah baru dengan suasana dan gemblengan yang berbeda.

Kesenanganku adalah memperhatikan keunikan masing-masing siswa. Terutama yang menonjol karena hiperaktifnya atau yang justru sangat pendiam terkesan minder, Setiap angkatan selalu kutemukan siswa-siswa dengan segala keunikannya.

Siswa yang superaktif mungkin lebih mudah diatasi dengan kelembutan dan ketegasan. Tapi siswa yang pendiam dan minder, tidak mudah untuk dikembalikan kepercayaan dirinya. Sebab lain di luar pantauan guru-guru, para siswa pendiam itu sering mendapat perlakuan yang kurang menyenangkan dari teman-temannya. Hal yang membuat mereka minder biasanya karena fisik(kecil, cacat) atau faktor psikis yang dia bawa dari rumah.

Kuperhatikan lagi anak bangsa yang baru tumbuh, dan oleh orang tuanya dipercayakan kepada kami untuk membimbing menjadi manusia yang berbudi luhur dan bermanfaat untuk dirinya, keluarga dan masyarakat. Sungguh tanggung jawab yang mulia bila kita mampu melakukan dengan penuh penghayatan.

Kecerdasan dan emosi mereka baru mengalami tumbuh kembang. Dua kata itu yang minimal ada di benakku ketika menghadapi mereka. Tapi bukannya cerdas itu adalah suatu anugerah yang tidak semua orang memilikinya. Cerdas menurut kamus Besar Bahasa Indonesia adalah tajam pikiran. Bagi orang cerdas senjata utamanya adalah logika, dan pengetahuan yang ia dapat dari teori hanyalah sebagai pendukung saja. (https//www.sahabatnestle.co.id). Cerdas berbeda dengan pintar. Arti pintar adalah mengetahui, pandai, cendikia dan berilmu. Pintar dicapai dengan ketekunan dan proses belajar yang konsisten. Orang pintar membutuhkan ketelatenan untuk memahami suatu hal, tetapi orang cerdas sangat cepat untuk menerima dan mengelola informasi.

Emosi dalam konteks ini adalah luapan perasaan. Bagaimana cara memperlakukan emosi secara benar. Baik untuk dirinya sendiri maupun berhubungan orang lain, itulah yang dinamakan kecerdasan emosi (EQ)

Kecerdasan emosi meliputi hubungan dengan orang lain(interpersonal) dan berhubungan dengan diri sendiri(intrapersonal). Berhubungan dengan orang lain diataranya bagaimana dia memposisikan diri di dalam pergaulan, bagaimana dia bersikap serta bagaimana penerimaan teman-teman terhadap kehadirannya. Kaitannya dengan diri sendiri (intrapersonal) adalah ketekunan, memotivasi diri dsb.

Kesuksesan seorang tidak hanya pada kecerdasan intelektual, tetapi didukung oleh kecerdasan emosional dan diperkuat dengan kecerdasan spiritual. Jadi menjadi pintar saja tidak cukup, harus memiliki sikap yang baik, dan lebih bisa memahami akan tugas-tugas yang menjadi tanggung jawabnya. Yang tidak kalah pentingnya adalah bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian sebagai kepekaan spiritual.

Tugas kami sebagai guru bagaimana menyandingkan ketiga kata itu dengan semestinya. Bagaimana kecerdasan yang terpigura dengan emosi yang proporsional. Atau dalam bahasa yang sekarang adalah kecerdasan intelektual (IQ) yang mestimulus logika, kecerdasan emosi Emotional Quotient (EQ) berhubungan dengan diri sendiri dan orang lain, dan kecerdasan spiritual(SQ) untuk mampu merefleksi kebermaknaan hidup.

Dalam bahasa yang ringan, aku sering prihatin melihat cara beberapa rekan menyikapi siswa. Mereka begitu menyanjung dan memperlakukan secara istimewa siswa yang pintar secara akademis dan sebaliknya mengabaikan siswa yang belum memiliki prestasi bahkan yang mengalami kesulitan berorientasi dengan pelajaran dan lingkungan.

Reward bagi siswa berprestasi sebuah keniscayaan dengan pengayaan yang maksimal, tetapi bagi siswa yang mengalami kesulitan berorientasi harus juga diperhatikan. Ibarat tunas, anak-anak yang mengalami disorientasi itu memiliki peluang fifty-fifty untuk menjadi baik atau sebaliknya. Tugas guru mengambil peluang agar tunas itu menjadi baik.

Tidak saja mensejajarkan kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ), tapi ada kecerdasan spritual (ES) yang menjadi penyeimbang di antara keduanya.

Kecerdasan intelektual (IQ) menekankan pada kemampuan seseorang dalam perhitungan matematis logika dan bahasa. Kecerdasan intelektual menorehkan kepintaran. Kecerdasan emosional akan memperbaiki perangai yang berhubungan dengan diri sendiri maupun orang lain. Sedangkan kecerdasan spritual akan membawa siswa untuk memahami kebermaknaan hidup, bisa memilah antara kebaikan dan keburukan serta mampu merefleksi segala hikmah kehidupan.

Selain ketiga kecerdasan itu terdapat pula kecerdasan majemuk, yang meliputi kecerdasan spasial, kinestetik tubuh, musikal, linguistik, matematika-logis, interpersonal, intrapersonal, naturalistik..

Biarlah kecerdasan majemuk itu berkembang secara maksimal, sebagai pendidik tidak gegabah untuk menjudge anak bodoh.Kedelapan kecerdasan majemuk itu dapat berkembang secara bersamaan . Masing-masing orang memililki bakat dan kecenderungan .Setelah kita mengetahui ini hendaknya kita menghargai keunikan anak. Tidak membedakan mereka berdasarkan kecerdasan akademik saja. Karena ada kecerdasan majemuk yang termanifestasi di ketiga kecerdasan yaitu IQ,EQ, dan SQ.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Satu lagi....Karakter. Salam hangat

14 Feb
Balas

Salam kembali . Pak

14 Feb

Selamat membina anak-anak bangsa

14 Feb
Balas

Mari.... .Tugas kita sebagai guru

14 Feb

Juga selalu menyematkan pd diri siswa dalam hal "unggah ungguh lan toto kromo" .... gt ya bu .

19 Feb
Balas

Nggih Pak. Punika termasuk penguatan EQ . ☺

20 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali